Karena Aku Hanya ‘Kalangan’ Biasa …
Peraturan dibuat oleh manusia namun justru ‘musuh’ terbesar peraturan tersebut tak lain dan tak bukan adalah manusia itu sendiri.
Kalimat tersebut langsung tercetak di benakku ketika aku tanpa sengaja mengingat hal yang membuatku harus mengorbankan prinsip karena harus ‘menghormati’ aturan. Bukan, bukan seperti itu sebenarnya. Aku sangat menghormati aturan yang dibuat oleh ‘para pendahulu’ku. Aku bahkan bangga bisa menjadi salah satu pelaksananya. Pada awalnya begitulah yang ada dalam pikiranku ketika memasuki dunia baruku. Aku sungguh-sungguh tercengang ketika mengetahui ternyata ada peraturan seperti itu. Sungguh luar biasa dan sangat berat pasti bagi yang dikenainya. Namun, dalam prosesnya ternyata banyak yang sungguh di luar dugaan. Belas kasihan menjadi unsur yang membuat banyak yang harus ‘buta’ dengan peraturan yang sudah ada.
Ketika itu aku sudah berpegang teguh pada apa yang sudah menjadi prinsipku. Prinsip yang aku buat setelah aku mengetahui ‘ternyata seperti itu’. Berapa kalipun mereka bertanya dan meminta jawabku, aku tetap teguh pada pendirianku, teguh pada apa yang aku yakini. Temanku meremas tanganku di bawah meja, menguatkanku, namun untuk keputusan yang mana aku tidak tahu. Samakah prinsipnya denganku? Atau justru dia mengharap aku melakukan apa yang diinginkan oleh semua orang yang mungkin juga merupakan keinginannya? I have no idea.
Terkejut bukan kepalang ketika seorang yang lain mengatakan bahwa yang tertinggi juga memiliki kekuasaan untuk ‘mengabaikan’ keputusan yang dibuat oleh ‘kalangan rendah’. Sakit hatiku, pedih rasanya. Ingin sekali kumuntahkan air di mataku ini, tapi aku tegarkan hati untuk menghadapi semua. Karena aku tahu sekarang, saat ini, apapun keputusan yang aku buat atau kalau boleh kusebut ‘kalangan yang sama denganku’ tidak ada artinya di mata ‘kalangan penguasa’. The power is in their hands; we should obey them only, that’s all, and case is closed.
Sekarang jika menghadapi saat yang sama aku hanya bisa pasrah. Meskipun aku sering menjadi ‘algojo’, tetap saja bukan wewenangku untuk menentukan hal-hal khusus. Hal-hal yang membuatku ‘dipaksa’ mengorbankan prinsipku. Hal-hal yang justru pada akhirnya sangat menyiksaku karena hanya aku sendiri yang bertahan pada apa yang menjadi pedoman kami. Sendiri, saat itu, tanpa teman tanpa dukungan hanya tatapan tak berteman.
Di permukaan segalanya terasa indah. Namun jika kau masuk, kau akan menemukan bahwa tidak seperti itu adanya. Banyak yang dilanggar, banyak juga yang dikorbankan. Banyak yang tidak pada tempatnya namun dipaksakan harus begitu.
Begitulah yang terjadi. Hanya karena aku ‘kalangan’ biasa.
from innocent said,
February 15, 2010 at 1:59 pm
ce ilehhh yg mo jd pnulis…. tapi ga kesampean……HEHEHEHE
Miss Chusy said,
February 16, 2010 at 1:01 am
Udah dech yang udah enggak punya blog mah enggak usah usil…
pasti pengen tuch punya blog sekeren punya miss chusy … ^-^
masfaj said,
February 22, 2010 at 9:59 am
ehm…ehm… iki mbahas masalah sing endi yo….
kethoke sing masalah kae kie…. hehe..
Miss Chusy said,
February 23, 2010 at 2:03 am
Mr FS:
Hayoo, sing ndi Pak? iso nebak gak?
Itu loh yang aku buete buenget akhirnya nguanter mbak yuli ke buengkel ma dirimu juga…;0)
Wah, rak sido nebak no yo…